Senin, 17 November 2014

SIFAT SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

#PENGERTIAN SIFAT KOLIGATIF


           Sifat sifat larutan seperti rasa dan warna, bergantung pada jenis zat terlarut. selain sifat yang bergantung pada jenis zat, ada pula beberapa sifat zat yang hanya bergantung pada konsentrasi partikel zar terlarut. artinya dapat disimpulkan bahwa suatu larutan akan memiliki sifat yang sama asalkan konsentrasi partikel terlarutnya sama. salah satu sifat tersebut adalah titik beku. Penuruan titik beku adalah selisish antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan. Penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, melainkan hanya jumlah mol zat terlarutnya. Contohnya larutan urea dan larutan glukosa berkonsentrasi sama, maka keduanya mempunyai penurunan titik beku yang sama. Tetapi, hal ini tidak berlaku bagi larutan jika keduanya bukan merupakan larutan non elektrolit ataupun elektrolit. Jadi, sifat koligatif larutan elektrolit akan berbeda dengan sifat koligatif larutan nonelektrolit, meskipun jumlah mol zat terlarutnya sama. 
      Sifat-sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel terlarutnya disebut sifat koligatif. (Purba, Michael. 2006:3)

#KEMOLALAN DAN FRAKSI MOL

        Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan yang memiliki satuan mol/L. Rumus yang digunakan untuk menyatakan kemolaran yaitu :

              M = n/V
dimana :
  • M : kemolaran
  • n : jumlah mol zat terlarut
  • V : volume larutan (dalam Liter)
Kemolaran sedikit berpengaruh pada suhu. Artinya, kemolaran suatu larutan akan sedikit berubah jika suhu mengalami perubahan. 

1.      Kemolalan (m)
Menyatakan jumlah mol (n) zat terlarut dalam 1 kg (1000 gram) pelarut. Dinyatakan dalam mol/kg.
      m = n/p            dengan m : kemolalan
                                           n : jumlah mol zat terlarut
                                           p : massa pelarut (dalam kg)
jika massa dinyatakan dalam gram, maka rumus kemolalan tersebut akan menjadi:
      m = n . 1000/p             dengan, m : kemolalan
                                                        n : jumlah mol zat terlarut
                                                        p : massa pelarut (dalam gram)


2.      Fraksi Mol (X)
Menyatakan perbandingan jumlah mol zat terlarut atau pelarut terhadap jumlah mol larutan. Jika jumlah mol zat pelarut adalah nA, dan jumlah mol zat terlarut adalah nB, maka fraksi mol pelarut dan zat terlarut adalah :
      XA = nA/ (nA + nB) dan XB = nB/ (nA + nB)
Jumlah fraksi mol pelarut dan fraksi mol zat terlarut adalah 1
      XA + XB = 1

Besarnya tekana uap bergantung pada jenis zat dan suhu. zat yang memiliki gaya tarik-menarik antarpartikel relatif besar, berarti sukar menguap dan mempunyai tekanan uap yang relatif rendah contoh garam, gula, glikol. dan sebaliknya.

Hukum Roult
    PA = XA. PoA
Dengan,
PA : tekanan uap komponen A
 XA : tekanan uap A murni
     PoA : fraksi mol komponen A      

Jika zat sukar menguap, maka :
Plarutan = Xpelarut . Popelarut
     ∆P = Po - P 

Titik Didih dan Titik Beku Larutan

∆Tb = Tb larutan - Tb pelarut
∆Tb : kenaikan titik dididh
Tb larutan : titik didih larutan
Tb pelarut : titik didih pelarut

∆Tf = Tf larutan – Tf pelarut
∆Tf : kenaikan titik beku
Tf  larutan : titik beku larutan
Tf pelarut : titik beku pelarut

Untuk larutan encer, kenaikan titik didih  (∆Tb) maupun penurunan titik beku (∆Tf) sebanding dengan kemolalan larutan dan merupakan suatu tetapan yang tergantung pada jenis pelarut.

∆Tb = Kb . m
∆Tf = Kf . m
Dengan        ∆Tb  : kenaikan titik didih
                     ∆Tf :   kenaikan titik beku
                     Kb : tetapan kenaikan titik didih molal
Kf : tetapan kenaikan titik beku molal
m : kemolalan larutan 




Hubungan Tekanan Osmotik dengan Konsentrasi Larutan
Menurut Hukum Van’t Hoff :

πV = nRT          dengan      π : tekanan osmotik
                                             V  : volume larutan dalam Liter
                                             n :  jumlah mol zat terlarut
R : tetapan gas (0,08205 L atm / mol K)
T : suhu absolut larutan dalam Kelvin (K)
Bila konsentrasi zar terlarut sama, sifat koligatif larutan elektrolit mempunyai harga lebih besar daripada sifat koligatif larutan nonelektrolit. Perbandingan anatra harga sifat koligatif yang terukur dari suatu larutan elektrolit dengan sifat koligatif yang diharapkan dari suatu larutan nonelektrolit pada konsentrasi yang sama disbut faktor van’t Hoff dan dinyatakan dengan lambang i.
    ∆Tb = Kb . m . i
    ∆Tf = Kf . m . i
    π = MRT . i
    i = 1 + (n-1) a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar